Minat para pelaku pasar tersebut terhadap aset beresiko disebabkan oleh persepsi bahwa perekonomian sudah mulai menunjukkan pemulihan yang stabil, apalagi negara perekonomian terbesar dunia, AS, telah berhasil menyelesaikan masalah jurang fiskal yang membelitnya. Data-data ekonomi kawasan yang masih terlanda krisis, Eropa, sepanjang periode tersebut juga menunjukkan perbaikan terutama data aktivitas manufaktur dan sektor jasanya.
Akan tetapi memasuki pertengahan Februari, euforia risk sentiment terlihat mulai memudar. Dollar AS mulai kembali menunjukkan taringnya. Dollar AS seakan tidak kehilangan peminat. Beberapa faktor yang menyebabkan dollar AS kembali menguat.
Yang pertama adalah persepsi yang positif dari para pelaku pasar terhadap pemulihan kesehatan ekonomi AS. Data-data ekonomi AS yang dirilis antara Januari dan Februari lalu menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Hal ini berbeda dengan data-data ekonomi negara-negara di Eropa. Ternyata pemulihan ekonomi belum tampak di kawasan tersebut yang artinya efek dari krisis hutang itu tergambarkan pada kondisi kesehatan ekonomi yang buruk. Alhasil persepsi yang positif terhadap AS ini membuat aset-aset dollar tetap diminati para pelaku pasar.
Gambaran ini tercermin dari indeks aktivitas manufaktur dan jasa di zona euro yang masih berada di zona kontraksi di bawah angka 50. Sementara indeks aktivitas manufaktur dan jasa AS sudah berada di area ekspansi di atas angka 50 selama 2 bulan beruntun. Selain itu, persepsi negatif zona euro diperburuk oleh angka GDP yang tercatat berada di zona negatif selama 3 bulan beruntun yang artinya sudah mengalami masa resesi. Sementara meski GDP AS kuartal ke-4 masuk ke zona negatif, namun masih bisa beralasan masalah jurang fiskal, yang kini sudah selesai, menjadi penyebabnya.
Faktor kedua adalah prospek kebijakan stimulus dari bank sentral AS. Dari notulen atau minutes rapat kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat (Fed) pada tanggal 29-30 Januari 2013 menunjukkan bahwa ada perdebatan mengenai efektifitas stimulus yang digelontorkan saat ini dalam membantu pemulihan ekonomi AS. Evaluasi program stimulus akan dilakukan dan hasil evaluasi ini bisa bermuara pada dihentikannya program stimulus tanpa menunggu perkembangan bagus dari situasi tenaga kerja di AS. Hal ini bertentangan dengan pernyataan Gubernur Fed, Ben Bernanke, sebelumnya pada rapat kebijakan moneter Januari bahwa Fed akan tetap mempertahankan program stimulus pembelian obligasi sampai target tingkat pengangguran 6,5% tercapai.
Stimulus dapat diartikan penambahan likuiditas di pasar. Bila dilakukan Fed, berarti likuiditas dollar akan bertambah di pasar. Dan sebaliknya bila stimulus ditarik, berarti likuiditas dollar akan berkurang. Dan bila likuiditas berkurang akan mengakibatkan dollar AS menguat. Persepsi yang terbentuk di kalangan pelaku pasar saat ini setelah membaca notulen Fed adalah stimulus akan segera ditarik sehingga menimbulkan reaksi penguatan dollar AS.
Yang ketiga adalah kebijakan stimulus masih gencar dilakukan oleh bank-bank sentral negara dengan perekonomian besar di dunia seperti Bank Sentral Jepang, Eropa, Inggris dan Australia. Dengan kontraksi ekonomi yang terjadi di negara-negara besar ekonomi, bank-bank sentral masih dan bahkan menambah program stimulus untuk membantu memulihkan perekonomian.
Contohnya, Bank Sentral Jepang yang mengubah kebijakan menjadi lebih agresif dalam pemberian stimulus untuk mengeluarkan Jepang dari masa deflasi. Apalagi program ini sejalan dengan program pemerintahnya yang juga menjalankan kebijakan stimulus. Gabungan stimulus fiskal dan moneter ini membantu melemahkan yen terhadap dollar AS dan mata uang lainnya. Data ekonomi Eropa dan Inggris yang masih buruk akibat krisis hutang membuat bank sentral masing-masing masih menerapkan kebijakan moneter yang longgar. Bahkan Bank Sentral Inggris diproyeksikan akan menambah program pembelian asetnya. Sementara Bank Sentral Australia memberikan isyarat tidak akan menaikan suku bunga, malah mungkin akan menurunkan suku bunga. Kuatnya nilai dollar Australia dianggap bisa melukai perekonomian Australia. Kebijakan stimulus yang gencar dijalankan bank-bank sentral di luar Fed membantu menguatkan nilai dollar AS karena mata uang lainnya terdepresiasi akibat kebijakan tersebut.
Selama ketiga faktor di atas masih bertahan, dollar AS masih akan tetap menjadi favorit. Status aset dollar AS sebagai safe haven juga menjadikan nilai dollar bertambah kuat di kala kekhawatiran melanda para pelaku pasar karena ketidakpastian yang meninggi di pasar atau terjadi krisis ekonomi global.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar